QIRA-AT
AL-QUR’AN
Dosen
Pengampu:
Prof. Dr. KH. Moh. Ali Aziz, M.Ag
Asisten
Dosen I:
Ati’ Nursyafa’ah, M.Kom.I
Disusun
Oleh :
Jihan Rahma Anjani Yusnita (B71219063)
KOMUNIKASI
DAN PENYIARAN ISLAM
UNIVERSITAS
ISLAM NEGRI SUNAN AMPEL
SURABAYA
2019
KATA
PENGANTAR
Alhamdulillah,
segala puji hanya bagi Allah saw. Yang telah memberi rahmat dan petunjuk-Nya
kepada kita sekalian. Semoga sholawat serta salam senantiasa tercurah kepada jujungan kita Nabi besar Muhammad SAW
beserta keluarga dan para sahabatnya.
Kami bersyukur
kepada Allah SAW. Yang telah memberikan kesempatan kepada kami untuk
menyelesaikan penyusunan Makalah Qira’at al-Qur’an ini.
Semoga Allah
memberikan ridho dan berkahnya kepada siapa saja yang membaca makalah ini.
Surabaya, 2019
Jihan Rahma Anjani
Yusnita
DAFTAR
ISI
BAB
I
PEMBAHASAN
Pendapat
– Pendapat Tentang Qira’at (Bacaan) Al- Qur’an
Qira’at merupakan
salah satu cabang ilmu dalam Ulum al Qur’an. Ilmu ini tidak banyak dikaji oleh
kalangan tertentu, yakni dikalangan akademik. Hal ini terjadi dikarnakan antara
lain karena ilmu qira’at karena ini tidak mempelajari masalah-masalah yang
berkaitan dengan secara langsung dengan kehidupan manusia seperti masalah halal
haram atau hukum-hukum tertentu dalam kehidupan manusia.[1]
A.
Pengertian Qira’at Dan Perbedaannya Dengan Riwayat Dan
Tariqoh
Menurut
bahasa, qira’at adalah jama dari kata qira’at dan merupakan isim masdar dari kata qira’a adalah bacaan atau cara membaca.
Menurut
istilah, pengertian qiraat dipahami oleh ulama’ secara beragam
Hal
ini disebabkan oleh keluasan makna dan sisi pandang yang dipakai oleh ulama
tersebut. Berikut ini pengertian qira’at menurut
istilah. Dalam hal ucapan Al-Quranul Karim qira’at ini berdasarkan
sanad-sanadnya sampai kepada Rosul SAW.[2]
Menurut
az-Zarqani yang dimaksud dengan qira’at adalah “suatu madhhab yang
dianut oleh seorang imam dari para imam qurra’ yang berbeda dengan yang lain
dalam pengucapan al Qur’an al-Karim dengan kesesuaianr riwayat dalam
jalur-jalurnya, baik perbedaan itu dalam pengucapan huruf-huruf ataupun
pengucapan bentuknya.” Sementara az-Zarkashi mengemukakan bahwa perbedaan qira’at itu meliputi perbedaan lafaz-lafaz tashdid dan lain-lainya. Menurutnya,
qira’at harus melalui talaqqi dan
mushafahah, karena dalam qira’atb banyak hal yang tidak bisa kecuali dengan
mendengar langsung dengan seorang guru dan bertatap muka.
Menurut
Ibn al-Jazari dalam kitabnya Munjid
al-muqri’in mengatakan : qira’at
adalah “pengetahuan tentang cara-cara melafalkan kalimat al-Qur’an dan
perbedaannya dengan menyadarkan kepada penukilnya.”
al-Jazari
mengatakan bahwa setiap bacaan qira’at harus
sesuai dengan kaidah bahasa Arab dan sesuai dengan salah satu mushaf uthmani, dengan sanat yang sahih.
Dari
beberapa defisi tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa qira’at itu adalah ilmu tentang cara membaca al-Qur’an yang dipilih
oleh salah seorang ahli atau imam qira’at,
berbeda dengan cara ulama lain berdasarkan riwayat-riwayat yang sahih sanadnya
dan selaras dengan kaidah-kaidah bahasa Arab serta sesuai dengan bacaan yang
terdapat pada salah satu mushaf Uthmani.
Untuk
memahami lebih lanjut tentang qira’at perlu juga untuk memahami makna riwayat dan tariqah ,
yakni sebagai berikut.
“Qira’at adalah bacaan yang disandarkan kepada
salah seorang imam dari qurra’ yang
tujuh, sepuluh atau empat belas; seperti qira’at
Nafi , qira’at Ibn Kathir, qira’at,
Ya’ qub dan lain sebagainya.
Sedangkan
riwayat adalah bacaan yang
disandarkan kepada salah seorang perawi dari para qurra’ yang tujuh, sepuluh atau empat belas. Misalnya, Warsh mempunyai dua murid yaitu al-Azraq
dan al-Asbahani, maka disebut tariq al-azraq’an. Bisa juga disebut dengan Qira’at Nafi min riwayati warsh min tariq al-azraq.[3]
B.
Pembagian Qira’at dan Macam-Macamnya
Sebagai
ulama mengatakan bahwa macam-macam qira’at itu ada enam, yaitu al-mutawatir, al-mashhur, al-ahad,
ash-shadh, al-mawdu’ dan al- mudrij. Berikut ini keterangan masing-masing
beserta contohnya.
1.
Qira’at
mutawatir
adalah qira’at yang diriwayatkan oleh
orang banyak yang tidak mungkin terjadi kesepakatan diantara mereka untuk
berbuat kebohongan. Contoh untuk qira’at
al-mutawatir ini ialah qira’at
yang telah disepakati jalan perawaianya (sanad) dari imam Qira’at Sab’ah.
2. Qira’at mashhur adalah
qira’at yang sanadnya bersambung
sampai kepada Rasulullah SAW. Diriwayatkan oleh beberapa orang yang adil san
kuat hafalanya, serta qira’at nya
sesuai dengan salah satu rasam Uthmani; baik qira’at itu dari para imam qira’at
sab’ah atau imam qira’at ashara
atau pun imam-imam lainya yang dapat diterima qira’atnya dikenal dikalangan ahli qira’at. Bahwa qira’at itu
tidak salah dan tidah shadh, hanya
saja derajatnya tidak sampai kepada derajat
mutawatir. Misalnya qira’at yang diperselisihkan perawihanya dari imam qira’at sab’ah dimana sebagian ulama
mengatakan bahwa qira’at itu
dirawihkan dari salah satu imam qira’at
sab’ah dan sebagian lagi mengatakan bukan dari mereka.
Dua
macam qira’at diatas, qita’at
mutawatir dan qira’at mashhur, dapat
dipakai untuk membaca al Qur’an baik dalam sholat maupun luar sholat. Dan wajib
meyakini ke al-Qur’annya serta tidak boleh mengingkari sedikitpun.
3. Qira’at ahad adalah qira’at yang sanadnya berisi dari cacat
tetapi menyalahi rasam uthmani dan
tidak sesuai dengan kaidah bahasa Arab. Juga tidak berkenal di kalangan imam qira’at. Qira’at ahad ini tidak boleh dipakai untuk membaca al-Qur’an dan
tidak wajib meyakini sebagai al-Qur’an.
4. Qira’at shaz adalah qira’at yang cacat sanadnya dan tidak
bersambung kepada Rasulullah. Hukum qira’at
ini tidak boleh dibaca di dalam ataupun diluar sholat.
5. Qira’at mawdu’ adalah qira’at yang dibuat-buat dan disandarkan
kepada seseorang tanpa mempunyai dasar periwayatan sama sekali.
6. Qira’at shabih bi al-mudraj adalah
Qira’at yang mempunyai kelompok
mudraj dalam hadist, yakni qira’at
yang telah yang memperoleh sisipan atau tambahan kalimat yang merupakan tafsir
dari ayat tersebut.
Dari empat bacaan qira’at selain al-mutawatir dan al-mashhur, semuanya (al-ahad, al-shaz, al-mawdu’ dan al-mudraj)tidak boleh untuk dibaca baik
didalam solat maupun diluar solat, karena hakekatnya ia bukan al-Qur’an.[4]
Dari
segi jumlah, macam-macam qira’at dapat dibagi menjadi 3 macam, qiraat yang
terkenal yaitu:
1.
Qira’at
sab’ah
adalah qira’at yang dinisbahkan
kepada para imam qurra’ yang tujuh termashhur. Mereka adalah nafi’, Ibn khatir, ‘Amr, Ibn’ amir , asim,
hamzah dan kisa’i
2.
Qira’at
asharah
adalah qira’at sab’ah yang ditambah dengan tiga qira’at lagi. Yang disandarkan
kepada Abu Ja’far, Ya’qud dan khalaf al-ashir.
3.
Qira’at urba’ ‘asharah, adalah qira’at
asharah yang ditambah dengan empat qira’at
lagi yang disandarkan kepada al-hasan
al- Basri, Ibn Muhaysin, yahya al- yaziqi, dan ash-shanbudhi.
Dari
ketiga qira’at diatas, yang paling
terkenal adalah qira’at sab’ah
kemudian disusun oleh qira’at asharah.
C.
Syarat-Syarat Sahnya Qira’at
Para
ulama menetapkan tiga syarat sah dan keterimanya qira’at yaitu:
1. Sesuai
dengan sakah satu kaidah bahasa Arab.
2. Sesuai
dengan tulisan pada salah satu mushaf uthmani walaupun hanya tersirat.
3. Sahih
sanadnya.[5]
D.
Mafaat Adanya Perbedaan Qira’at
Adanya
bermacam-macam qira’at seperti yang disebutkan diatas, mempunyai berbagai
manyaat, yaitu:
1. Meringankan
umat islam untuk membaca al-Qur’an. Keringanan ini sangan dirasakan khususnya
oleh penduduk Arab. pada masa awal diturunkan al-Qur'an’dimana mereka terdiri
dari berbagai kabilah atau suku yang diantara mereka terdapat banyak perbedaan
logat, tekanan suara dan sebagainya
meskipun sama-sama berbahasa arab. Sekiranya al-Qur’an itu diturunkan dalam
satu qira’ah saja maka tentunya akan
memberatkan suku-suku yang lain berbeda bahasanya dengan yang lain.
2. Menunjukan
betapa terjaganya dan terpeliharanya al-Qur’an dari perubahan dan penyimpangan,
padahal kitab ini mempunyai banyak segi bacaan yang berbeda-beda.
3.
Dapat menjelaskan hal-hal yang mungkin
masih global atau samar dalam qira’at
yang lai, baik qira’at itu muttawatir, mushhur, ataupun shadh.
4. Bukti
kemukjizatan al-Qur’an dari segi kepadatan maknanya. Karena setiap qira’at menunjukan suatu hukum syara’
tertentu tanpa perlu adanya pengulangan lafaz.
5. Menurunkan
aqidah sebagai orang yang salah, misalnya dalam penafsiran tentang sifat-sifat
surga dan penghuninya.
6. Mendukung
autentisitas al-qur’an karena akan terhudar dari car abaca yang menyimpang.
Menjaga syarat qira’ah yang benar, juga sangat penting untuk membantu seseorang
mujtahid dalam pertimbangan pengistibatan hukum dan juga bagi para musafir
dalam melahirkan wawasan penafsiran yang lengkap dan kontekstual.
7. Perbedaan
qira’ah bisa berakibat pada perbedaan huruf, bentuk kata, susunan kalimat,
I’rab, penambahan dan pengurangan kata yang melahirkan perbedaan makna dan
pengaruhnya kepada hukum yang diproduknya. Fenomena ini mengindikasikan
fleksilibitas terhadap pembacaan al-qur’an (
qira’ah sab’ah ahkruf ) yang telah terjadi sejak masa nabi saw, hal ini
harus diambil sebagai indeks beberapa dukungan untuk fleksibilitas dalam
menafsirkan al-qur’an khususnya pada ayat-ayat yang berisi hukum ( ayat ahkam).
Fleksibilitas ini sangat penting dalam membuat wahyu lebih muda diakses untuk
khalayak yang lebih luas.
8. Fleksibilitas
terhadap pembacaan al-qur’an oleh nabi saw pada masanya antara lain dalam
rangka memenuhi kebutuhan masyarakatnya, karena itu pada masa kini pun,
fleksibilitas yang sama harus tersedia dalam pemahaman dan penafsiran firman
tuhan sejalan dengan kebutuhan muslim saat ini. [6]
E.
Tujuh Qira’at (Bacaan Standar) Al- Qur’an
Adanya
banyak cara membaca al-qur’an. Keragaman bacaan ini bukan berarti kelemahan
al-qur’an, tapi justru menunjukan kelebihannya, jika bacaan al-qur’anya
diseragamkan, tentu hal ini mempersulit umat islam dalam membacanya.
Ada tujuh bacaan al-Qur’an yang dipandang
memenuhi syarat, yaitu:
1. Baca’an
servi nafi’. Penyebaranya di madinah. Nama lengkap maha guru bacaan al-Qur’an
ini adalah nafi’ bin Abd al- Rahman bin Abi Nu’aim(w.169 H) ia belajar bacan
al-qur’an dari Ali bin Ja’far, ‘Abd al-Rahman bin Hurmuz, Muhammad bin Muslim
al-zuhri.
2. Bacaan
versi Ibnu katsir. Penyebaranya di mekkah. Nama lengkap guru maha besar
al-qur’an ini adalah ‘Abdullah bin Katsir al-Makki(45-120 H). ia belajar bacaan
al-qur’an dari para murid sahabat nabi SAW; Abdullah bin al-Sa’ib, mujahid in
Jabir, dan Dirbas. ‘ Abdullah bin al-Sa’ib, adalah murid dari Ubay bin Ka’ab
RA. dan ‘umar bin al- khaththab RA. mujahid bin jabir dan Dirbas adalah murid
dari ‘Abdullah bin Abbas RA. Ibnu ‘Abbas mendapatkan pelajaran dari Ubay bin
Ka’ab RA dan Zaid bin Tsabit RA. baik ‘Umar, Ubay maupun Zaid ketiganya adalah
sahabat nabi SAW yang mendapatkan bacaan al-qur’an langsung dari Nabi SAW.
3. Bacaan
versi abu ‘amr. Penyebaran dibashrah, irak nama lengkap maha guru bacaan
Al-Qur’an ini adalah Abu ‘amr zaban bin Al-‘ala’ bin ammar al-syamy(68-154). Ia
belajar bacan al-qur’an dari abu ja’far Yazid bin qa’qa dan Hasan al-Bashri,
murid dari al-hathahtan dan abu al-aliya mendapatkanya. Dari ummar bin
al-khatkhab RA. dan Ubay bin Ka’ab RA. keduanya sahabat nabi SAW langsung
mendapat bacaan al-qur’an dari nabi SAW.
4. Bacaan versi
Ibnu ‘Amir. Penyebaranya di Damaskus, syiria. Nama lengkap maha guru bacaan
al-Qur’an ini adalah ‘Abdullah bin Ammir bin Al-Yahsabi(8-118H). ia seorang
hakim didamaskus dari masa Khalifah al-Walid bin Abd al-Malik. Ibnu ‘Amir
menerima bacaan a-l-Qur’an kepada Utsman bin Affan RA. abu darda’ dan Usman
mendapatkannya dari Nabi SAW.
5. Bacaan
versi ‘Ashim. Penyebaranya di kufah, Irak, nama lengkap maha besar guru
al-Qur’an ini adalah ‘Ashim bin abu al-najud al-syadh(w. 127 H). ‘Ashim belajar
bacaan al-qur’an dari Abu al-rahman al-simi seorang murid darri sahabat nabi
SAW: ‘Abdullah bin Mas’ud, Usman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Ubay bin ka’ab
dan zaid bin Tsabit RA, kelima sahabat nabi SAW ini mendapatkan bacaan
al-Qur’an langsung dari nabi SAW.
6. Bacaan
versi hamzah. Penyebaran di Kufah, nama lengkap maha guru bacaan al-qur’an ini
adalah Hamzah bin Habib bin Imarah (80-156 H). ia hidup pada masa khalifah Abu
Ja’far al- Manshur. Ia belajar bacaan al-qur’an dari Ali Sulaiman al-A’masy,
Ja’far al-syadiq, Hamran bin A’yan, dan Manhal bin Amr semuanya berguru
langsung kepada nabi SAW.
7. Bacaan
versi al-kisai. Penyebarannya di Kufah. Nama lengkap guru bacaan al-Qur’an ini
adalah Ali bin Hamzah al-Kisaiy (w.189 H) Ia belajar bacaan al’qur’an ini
adalah Hamzah, Isma’il bin ja’far, syu’bah dan semuanya bersambung langsung
pada nabi SAW.[7]
Sebagai ulama menambahkan pula empat
qira’at kepada qira’at sepuluh itu adalah :
a.
Qiraat
al-hasanulbasri, maula ( mantan sahaya ) kaum Ansar dan salah seorang
tabiin besar yang terkenal dengan kezuhudanya. Ia wafat pada 110 H.
b.
Qira’at
Muhammad bin Abdurrahman yang dikenal dengan ibn muhaisin. Ia wafat
pada 123 H, dan ia adalah syaikh, guru Abu,Amr.
c.
Qira’at
Yahya bin Mubarak al-Nahwi dari bagdad. Ia mengambil
qira’at dari Abi Amr dan Hamzah, dan ia adalah syaikh atau guru ad-Dauri dan
as-Susi.ia wafat pada 202 H.
Sesuai dengan patokan
umum. Maka Al-jazari kemudian mengklarifikasikan qira’at-qira’ apabila ditinjau
dari segi sanadnya menjadi enam macam, yakni :
1. Qiraat mutawwatir,
qiraat yang diriwayatkan oleh orang banyak dari orang banyak yang dapat
dipastikan tidak mungkin berdusta, seperti qiraat tujuh.
2. Qiraat masyhur, yaitu
qiraat yang diriwayatkan oleh orang yang adil, jujur, dan kuat ingatanya.
3. Qiraat ahaad, yaitu yang sahih
sanadnya, namun tidak sesuai dengan salah satu segi dari Mushaf Utsmani atau
bahasa Arab.
4. Qiraat syaiz, yaitu qiraat yang
menyimpang.
5. Qiraat maudlu’, palsu yang tidak
ada dasar-dasarnya, yaitu qiraat yang dinisbahkan kepada seseorang yang
membacanya.
6. Qiraat mudraj, yaitu qiraat yang
menambahkan kalimat penafsiran ke dalam ayat-ayat Al-Qur’an.
Dengan
demikian qiraat tujuh adalah qiraat yang paling valid dan paling sah yang harus
diikuti dan dibaca.[9]
F. Imam
Qiraat
1.
‘Abdullah
bin Katsir ad-Dari ketika itu Mekah sudah mulai terkenal
qiraat sistem.
2.
Nafi’
bin ‘Abdurrahman bin Abu na’im di Madinnah terkenal belajar ilmu
qiraat 70 orang.
3.
Di
Syabuni terkenal
sistem qiraat ‘Abdullah al-Yahshabi,
4.
Di bashara terkenal sistem qiraat Abu ‘Amr
dan sistem qiraat Ya’qub.
5.
Ya’qub belajar ilmu qiraat dari Salam bin Sulaiman at- Thawil.
6.
Di Kufah terkenal sistem qiraat Hamzah dan
sistem qiraat ‘Ashim.
7.
Adapun ‘Ashim, belajar ilmu qiraat kepada
zirr bin hubaisy, murid ‘Abdullah bin Mas’ud.[10]
G. Keutamaan
Membaca Al-Qur’an
Manusia
membutuhkan pedoman hidup. Mengapa Al-Qur’an baru diturunkan sejak Nabi
Muhammad SAW,padahal sebelumnya manusia telah hidup dalam lintas generasi yang
panjang? Kitab maupun lembar-lembaranya wahyu terdahulu sebelum Al-Qur’an
adalah bagian dari Al-Qur’an. Kitab maupun lembaran wahyu tersebut diturunkan
sesuai dengan kondisi peradaban umat manusia.
Peradaban terkait dengan kemajuan akal manusia. Umat nabi Muhammad SAW
adalah umat yang paling maju peradabanya. Karenanya, al-Qur’an berisi wahyu
Allah yang telah di sesuaikan dengan peradaban manusia modern.diantara
keutamaan- keutamaan dari membaca al-Qur’an adalah:
1. Mengangkat
kemuliaan bangsa yang berpedoman dengan al-Qur’an.
2. Setiap
huruf al-Qur’an memberi keutamaan bagi pembacanya.
3. Al-Qur’an
akan menjadi penolong bagi pembacanya kelak di hari kiamat.
4. Do’a
yang dibaca setelah membaca al-Qur’an akan dikabulkan Allah.
5. Tempat
yang sering dibacaakan al-Qur’an akan mendapatkan ketenangan, dan penghuninya
akan diperhatikan oleh Allah SWT.
6. Pembaca
al-Qur’an yang mahir maupun yang merasa sulit tetap mendapatkan penghargaan.
7. Semakin
seseorang membaca al-Qur’an dan memahami kandunganya, semakin kuat hafalan dan
semakin luas memahami wawasanya.
H.
Sejarah Pembentukan Ilmu Qira’at
Masa
pertumbuhan
Masa
ini dimuali dari masa Nabi Muhammad saw. Yaitu ketika nabi mengajarkan
Al-Qur’an kepada para sahabat, baik ketika masih berada Mekkah maupun setelah
berhijrah ke Madinah. Nabi mengajarkan al-Qur’an kepada para sahabatnya melalui
beberapa cara.
1. Membaca
dengan tartil.
2. Nabi
mengajarkan Al-Qur’an sedikit demi sedikit.
3. Mengajarkan
berbagai macam bacaan.[11]
I.
Melagukan Al-Qur’an
Dikalangan
para sahabat Nabi SAW, ada seorang sahabat yang memilih suara merdu. Beliau
bernama Abu Musa’ Abdullah bin Qais al-Asy’ri. Karena suara merdunya, Nabi
Muhammad SAW menggambarkan Abu Musa’ RA sebagai orang yang diberikan lagu
diantara lagu-lagu keluarga Nabi Daud AS ( Imam Muslim, tahun 1988 : I : 352 :
nomor 793). Sahabat lain Nabi SAW yang bernama Salim RA, pembantu Abu Hudzaifah
RA. Aisya
Keindahan Alquran tak hanya terbatas pada susunan huruf,
kalimat, atau makna yang terkandung di baliknya. Tetapi, Alquran juga indah
kala dibaca.
Kedahsyatan pengaruh yang terdapat dalam bacaan Alquran konon
dapat meluluhkan hati Umar bin Khatab yang lantas memeluk Islam. Karena,
ayat-ayat Alquran tersebut bila dilantunkan niscaya akan menggetarkan hati bagi
mereka yang beriman.
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang
bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan
ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah
mereka bertawakal.” (QS al-Anfaal [8]:2).
Namun, menurut Dr Basyar Awad Ma'ruf dalam bukunya yang
berjudul al-Bayan fi Hukm at-Taghanni bi Alquran, para ulama
tidak bersepakat menyikapi pembacaan Alquran dengan berbagai ragam nada dan
lagu, seperti seni tilawah atau tartil Alquran yang banyak populer sepanjang
sejarah.
Pendapat yang pertama mengatakan, hukum membaca Alquran dengan
varian lagu tersebut ialah makruh. Pendapat ini disampaikan Imam Ahmad bin
Hanbal, Malik bin Anas, Said bin al-Musayyib, Said bin Jabir, al-Qasim bin
Muhammad, Hasan al-Bashri, Ibnu Sirin, Ibrahim an-Nakha'i, dan lainnya. Opsi
ini juga menjadi rujukan sejumlah ulama masa kini, seperti Syekh Muhammad Abu
Zahrah.
Argumentasi yang dikemukakan kubu pertama ialah sejumlah hadis.
Dalil yang pertama ialah hadis dari Hudzaifah bin al-Yaman. Rasulullah
SAW memperingatkan di sabdanya tersebut agar hendaknya tidak membaca
Alquran dengan nada (lahn), seperti ahlul kitab dan orang fasik.
Akan
datang suata masa para kaum yang mengulang-ulang bacaan Alquran disertai lagu
dan variasi-variasi baru. Riwayat ini dinukilkan oleh at-Tirmidzi di Nawadir
al-Ushul, Thabrani di al-Ausath, Abu Ya'la di al-Jami'.
Dalil yang kedua ialah riwayat Abis bin Abas al-Ghifari yang
dinukilkan oleh Ahmad dan Thabrani. Di riwayat tersebut, Rasul menyebutkan salah
satu tanda akan datangnya hari akhir, yaitu munculnya kalangan yang tidak
berkompeten dengan Alquran, hanya pandai melagukannya.
Selain kedua hadis tadi, dalil pelarangan juga merujuk pada
tidak bolehnya mengumandangkan azan dengan lagu, seperti yang ditegaskan di
riwayat Ibnu Abas yang dinukilkan Imam ad-Daruquthni.
Ibnu Hajar al-Asqalani memberikan komentar yang cukup
proporsinonal. Menurut penulis Fath al-Bari fi Syarh Shahih al-Bukhari itu,
memperindah bacaan Alquran sangat dianjurkan, jika tidak mampu maka berusahalah
semampunya.
Akan tetapi, hendaknya tetap memperhatikan aturan-aturan baca
dan kaidah tajwid ataupun tahsin Alquran agar menghindari kesalahan-kesalahan
yang justru bisa merusak bacaan Alquran itu sendiri.
Alasan inilah yang tampaknya mendasari pula Lembaga Fatwa Mesir
(Dar al-Ifta') melarang pelantunan Alquran dengan lagu-lagu bila
ternyata bacaan tersebut tidak sesuai dengan kaidah-kaidah Alquran.
Para ulama sepakat jika pembacaan lagu itu melanggar kaidah ilmu
tajwid, qiraat, dan tahsin, maka tidak diperbolehkan.
Misal, seperti bacaan al-Haitsham yang membaca kata limasakina dalam
ayat ammas safinatu fakaanat limasakina dengan bacaan limiskin.
Ini dianggap sebagai fenomena baru yang keliru dalam pelantunan lagu Alquran.
Termasuk, tidak mengindahkan etika, seperti menyertai bacaan
tersebut dengan lantunan alat musik, seperti fenomena yang banyak bermunculan
di abad kedua dan ketiga Hijiriyah.
Sedangkan, pandangan yang kedua menyatakan, membaca Alquran
dengan tilawah atau tartil berikut macam-macam lagunya diperbolehkan.
Ini merupakan pendapat Abu Hanifah, Syafi'i, Abdullah bin
al-Mubarak, at-Thabari, Ibn Bathal, Abu Bakar Ibn al-Arabi, dan Ibn Qayyim
al-Jauziyah.
Deretan nama dari sahabat juga berpandangan yang sama, antara
lain, Umar bin Khatab, Ibnu Abas, Abdullah bin Mas'ud, dan lainnya.
Syekh Rasyid Ridha, Syekh Labib as-Sa'd, dan Dr Abd al-Mun'im
al-Bahi, termasuk pendukung diperbolehkannya pembacaan Alquran dengan cara
dilagukan dari kalangan ulama kontemporer.
Dasar yang dijadikan rujukan kelompok kedua ini, di antaranya,
hadis riwayat Bukhari, Muslim dan Nasai dari Abu Hurairah RA.
Hadis itu menegaskan, Allah SWT belum pernah mengizinkan
perkara, seperti izin yang diberikan kepada Nabi SAW untuk melantunkan bacaan
Alquran dengan lagu.
Selain itu, hadis riwayat Abdullah bin Mughaffal yang dinukilkan
oleh Bukhari, Muslim, dan Abu Dawud, juga diambil sebagai landasan.
Dalam hadis itu, Rasul dikisahkan membaca surah al-Fath secara
pelan lalu mengulanginya di atas untanya yang tengah berjalan.
Di riwayat lain dikisahkan, Rasulullah memuji bacaan Abu Musa
al-Asyari dan mengapresiasi sahabatnya tersebut, telah dianugerahi satu dari
sekian pita suara keluarga Nabi Dawud AS.
Di kalangan sahabat, Abu Musa al-Asya'ari memang tersohor dengan
suara dan lantunan Alquran yang bagus. Umar bin Khatab bahkan sering memintanya
agar memperdengkarkan bacaan merdu tersebut.
“Ingatkan kita akan Allah SWT (dengan bacaanmu),” kata
Umar. Selain Abu Musa al-Asy'ari, ada pula sahabat yang dikarunia bakat dan
potensi berharga itu, yakni Salim budak Abu Hudzaifah.
J.
Sejarah Ilmu Tajwid
Sejarah
ilmu tajwid asal usul dan akar ilmu tajwid, asal kata Tajwid yaitu dari bahasa
Arab jawwada yujawwidu tajwidan mengikuti wazan
taf’iil yang berarti membuat sesuatu menjadi bagus. Jika dibincangkan kapan
bermulanya ilmu tajwid, maka kenyataan menunjukkan bahwa ilmu ini telah bermula
dari al-Qur’an itu diturunkan kepada Rasulullah SAW. Ini karena Rasulullah SAW
sendiri diperintah untuk membaca al-Qur’an dengan tajwid dan tartil.
K.
Pengertian Tajwid
Secara
bahasa, tajwid adalah al-tahsin atau membaguskan. Sedangkan menurut istilah
yaitu, mengucapkan setiap huruf sesuai dengan maghrajnya menurut sifat-sifat
huruf yang mesti diucapkan, baik berdasarkan sifat asalnya maupun
bersifat-sifat yang baru.
Ilmu
tajwid adalah suatu pengetahuan tentang cara membaca Al-Qur’an dengan baik dan
benar.[12]
L.
Tujuan Ilmu Tajwid
Tujuan
mempelajari ilmu tajwid adalah: mememlihara bacaan al-Qur’an dari kesalahn dan
perubahan serta mememlihara lisan (mulut) dari kesalahan membaca.
M.
Hukum Mempelajari Ilmu Tajwid
Mempelajari ilmu
tajwid hukumnya fardlu kifayah, sedangkan membaca al-Qur’an dengan baik sesuai
dengan ilmu tajwid.
N.
Huruf-Huruf Hijaiyah Yang Menjadi Pembahasan Ilmu Tajwid
1. Jika
disebut huruf hijaiyah yang 28, maksudnya ilah huruf yang tersebut di atas itu
selain huruf Alif.
2. Huruf-huruf
tersebut semuanya menerima harokat.
3. Dan
yang tidak menerima harokat hanya satu, yaitu huruf Alif. Ia tidak dapat
berdiri sendiri. Huruf alif selamanya harus berada di belakang huruf yang lain.
4. Kalau
huruf alif diberi harokat seperti dibawah ini:
maka ia tidak dinamai huruf alif lagi,
akan tetapi dinamai huruf hamzah, dan kedudukanya(hukumnya)sama seperti hamzah.[13]
BAB II
KESIMPULAN
Menurut bahasa, qiraat adalah bentuk jamak
dari qira’ah yang merupakan isim masdar dari qaraa, yang artinya bacaan.
Ada beberapa kata
kunci dalam membicarakan qiraat yang harus diketahui. Kata kunci tersebut
adalah qira’at, riwayat.
Qira’at sebenarnya
telah muncul sejak masa nabi dan sababat.
Begitu halnya
dengan Sejarah ilmu tajwid asal usul dan akar ilmu tajwid, asal kata Tajwid
yaitu dari bahasa Arab jawwada yujawwidu tajwidan mengikuti wazan
taf’iil yang berarti membuat sesuatu menjadi bagus. Jika dibincangkan kapan
bermulanya ilmu tajwid, maka kenyataan menunjukkan bahwa ilmu ini telah bermula
dari al-Qur’an itu diturunkan kepada Rasulullah SAW. Ini karena Rasulullah SAW
sendiri diperintah untuk membaca al-Qur’an dengan tajwid dan tartil.
DAFTAR PUSTAKA
Al-
Qaththan, Manna Syaikh. Pengantar Studi
Ilmu Al-Qur’an. Jakarta :Pustaka al-Kautsar, 2015.
Al-Qattan,
Khalil Manna. Studi Ilmu-Ilmu Qur’an.
Bogor : Litera AntarNusa, 2006.
Ash-syaabuuniy,
Ali Muhammad. Studi Ilmu Al-Qur’an.
Bandung : CV Pustaka Setia, 1998.
As-Shalih,
Subhi. Membahas Ilmu-Ilmu Al-Qur’an.
Jakarta : Pustaka Firdaus, 1999.
Athaillah.
Sejarah Al-Qur’an. Yogyakarta :
Pustaka Pelajar, 2010.
Ali,
Muhammad Aziz. Mengenal Tuntas Al-Qur’an.
Surabaya : IMTIYAZ, 2018.
Hamid,
Rijal Syamsul. Buku Pintar Agama Islam,
Jakarta : Cahaya Salam, 2005.
Muhammad,
Sakho Ahsin. Membumikan Ulumul Qur’an.
Jakarta : PT Qaf Media Kreativa, 2019.
Sayuti. Ilmu Tajwid Lengkap. Sangkala.
Tim
Penyusun MKD. Studi Al-Qur’an.
Surabaya : Uinsa pers, 2013.
Tim
Reviewer MKD. Studi Al-Qur’an. Surabaya
: Uinsa pers, 2014.
[1]MKD UINSA, Studi al-Quran :
qiraat al-Quran, ( Surabaya: UIN Sunan Ampel press ), halaman 191
[2] Muhammad Ali Ash-Syaabuuniy,
Studi Ilmu Al-Qur’an, (CV PUSTAKA SETIA, Bandung 1998), halaman 374
[3]MKD UINSA, Studi Al-Qur’an,( UIN
Sunan Ampel Surabaya Prees 2014), halaman 257-259
[4]MKD UINSA, Studi Al-Qur’an,(UIN
Sunan Ampel Surabaya Prees 2014), halaman 268-271.
[5] MKD UINSA, Studi al-Qur’an, (Uin
Sunan Ampel Surabaya), halaman 272.
[6] MKD UINSA, Studi Al-Qur’an, (Uin
Sunan Ampel Surabaya),halaman 213-215
[7] Moh. Ali Aziz, Mengenal
Tuntas Al-Qur’an,IMTIYAS, halaman 167-169
[8] Manna’Khalil Al-Qattan, Studi
Ilmu-Ilmu Qur’an, LITERA ANTARNUSA, Bogor 2017,halaman 261.
[9] H.A. Athailah, M.AG. sejarah al- Qur’an,( PUSTAKA PELAJAR,
Yogyakarta, 2010), halaman 347-348.
[10] Subhi As-Shalih, membahas ilmu-ilmu al-qur’an, (PUSTAKA FIRDAUS,
Jakarta, 2011), halaman350-351.
[11] Ashin Sakho Muhammad, Membumikan Ulumul Qur’an, (Jakarta,QAF,2019),halaman
34-36.
[12] Syamul Rijal Hamid, Buku
Pintar Agama Islam,( CAHAYA ISLAM),halaman 531.
[13] H. SAYUTI, Ilmu Tajwid
Lengkap, halaman 7-8

Sangat membantu .semoga bermanfaat
BalasHapusSangat membantu. Semoga bermanfaat bagi pribadi dan pembaca. Lanjutkan dan tetap semangat dalam berkarya
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusBagus sekali makalahnya kak, pas sekali buat dijadikan bahan tugas sekolah
BalasHapuspenjelasannya sangat lengkap dan mudah dipahami, sangat bermanfaat dan dapat membantu banget. terimakasih:))
BalasHapusMasya allah sangat membantu sekali,semoga bermanfaat bagi kita semua yang membacanya dan semoga lebih abis lagi kedepannya
BalasHapusSangat membantu,dengan bahasa dan susun kalimat yabg sanagt mudah difahami, terimakasih🙏
BalasHapusSubhanallah
BalasHapusSemiga bermanfaat untuk yang lain amin
Sukses han :)
Alhamdulillah sangat membantu tugas saya,kosa kata yang mudah dipahami memudahkan saya untuk menyerap informasi dari artikel ini
BalasHapusAlhamdulillah... Semoga bermanfaat bagi kami para pembaca.. Aamiinn...
BalasHapusSangat membantu, semoga berguna untuk yang lain, terima kasih banyak
BalasHapusSangat membantu, semoga berguna untuk yang lain, terima kasih banyak
BalasHapusAlhamdulillah wawasan pun bertambah, trus semngats yy dlam hal kebaikan, usaha tak kan pernah mengkhianati hasil,,ok
BalasHapusWaw ini sangat membantu mengisi waktu kegabutan saya,
BalasHapusTerimakasih Dalam meningkatkan kualitas pendidikan kita telah ambil ilmu dari blog ini. Semoga Ini menjadi perubahan menuju pendidikan yang lebih baik..
BalasHapusMakalah anda sangat bermanfaat dan kosa katanya mudah dipahami
BalasHapusAlhamdulillah wawasan pun bertambah, trus semngats yy dlam hal kebaikan, usaha tak kan pernah mengkhianati hasil,,ok
BalasHapusBalas
Alhamdulillah wawasan saya menjadi bertambah, semoga kedepan lebih baik lagi dalam segi penulisan, kerapian , maupun yang lainnya
BalasHapuswahhh sangat lengkap dan jelas bgt,saya sukaaaaaaaaaa<3
BalasHapusterimah kasih banyak, ini sangat membantu sekali. sukses terus ya:)
BalasHapusmasya allah sangat membantu sekali,semoga bermanfaat bagi kita semua yang membacanya dan semoga lebih abis lagi kedepannya
BalasHapusBantu share
BalasHapusCalon istri ku jihan ❤
Hmm kok sosweet wkwk
Hapus❤❤❤❤❤❤❤
BalasHapusSangat bermanfaat, dan bisa dijadikan referensi pembelajaran. Semoga penulis bisa berkarya lebih baik lagi
BalasHapusMales koment gua.
BalasHapusSudah bagus lanjut kan aja
BalasHapusMin mau tanyak, gmna ya caranya komen. :'(
BalasHapusAku memang kurang tidur, tapi semenjak kenal kamu aku lebih sering bermimpi
BalasHapusTerlalu baper wkwk
HapusMakalah yg menarik, semoga membantu kita sebagai penuntut ilmu kak :)
BalasHapusBaguuusss
BalasHapusSangat bermanfaat untuk saya dan semua yg masih belum terlalu fasih dalam bertajwid, semoga makin sukses min
BalasHapusNice post, alhamdulillah semoga menjadinilmu yang barokah
BalasHapusAlhamdulillah saya merasa terbantu dengan makalah nya saya bisa mendapat kan refrensi,terimaksii...
BalasHapusAlhamdulillah makalahnya membantu sayaa mencari informasi
BalasHapusSemoga bermanfaat untuk yang lainnya ya
Ma syaa Allah sangat bermanfaat sekali, tetap semangat ya💪, Barakallah ya ☺☺
BalasHapusMasyaallah. sangat mudah dipahami materinya. Barakallah. Tetap semangat walaupun Tugas melanda.
BalasHapusSangat bermanfaat
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusMasya allah . Dapat ilmu tambahan lagi. Dan materinya juga sangat mudah untuk di pahami
BalasHapussubhanallah, semoga dengan saya coment saya dapat pahala
BalasHapuswkwkwk😂
MasyaAllah. Jadi dapat ilmu baru deh, semoga kedepannya lebih bagus lagi
BalasHapusSangat membantu. Semoga bermanfaat bagi pribadi dan pembaca. Lanjutkan dan tetap semangat dalam berkarya
BalasHapusMasya allah . Dapat ilmu tambahan lagi. Dan materinya juga sangat mudah untuk di pahami
BalasHapusTerima kasih karena sudah membagi ilmunya ... Postinganya Sangat bermanfaat .. semangat terus 😃
BalasHapusTerima kasih karena sudah membagi ilmunya ... Postinganya Sangat bermanfaat .. semangat terus 😃
BalasHapussudah sangat membantu penjelasan ny
BalasHapusWah bagus sekali makalah ini. Semoga bermanfaat dan menjadi referensi yang berguna untuk adek kelas selanjutnya
BalasHapusMasyaallah blognya sangat bermanfaat sekali bagi orang awam yang masih belajar al-quran
BalasHapusHan wes tak komen ikilo, minimal 10 kata kan? Iki wes lebih teko 10 kata
BalasHapuswahhh bagus sekali mbak jihan semoga bisa ke mancanegara terus berkarya mbak jihan semangattttttt
BalasHapusAlhamdulillah makin banyak orang menyebar info info dan pengetahuan. Semoga bermanfaat dan makin berkembang
BalasHapusMakalah nya bagus...tinggal menambah referensi sedikit lagi untuk menyempurnakan makalah tersebut.
BalasHapusKeren jee..semangat berkarya tanpa batas, ga nyesel mampir ke blog ini emang muantab dahh banyak manfaatnya lagi
BalasHapusMasyaallah.... Nikmat tuhan manakah yang engkau dustakan? Makalahnya bagus👏🏻👏🏻👏🏻 mantap jiwaa👍🏻👍🏻👍🏻
BalasHapusSangat membantu sekali dan mudah dipahami oleh pembaca,semoga kedepannya lebih baik lagi
BalasHapusalhamdulillah, bisa membantu dalam pengerjaan tugas serta menambah wawasan
BalasHapustabarakallah💖